Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Kamis, 04 Februari 2021

Terungkap, 4 Menit Mencekam Sebelum Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Jatuh

Terungkap, 4 Menit Mencekam Sebelum Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Jatuh

Terungkap, 4 Menit Mencekam Sebelum Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Jatuh

Tim penyelidik Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap detik-detik kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh ke perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari lalu. Empat menit terakhir, yang menegangkan, terungkap.

Pesawat yang mempunyai 62 orang, terdiri dari dua pilot, empat awak kabin, dan 56 penumpang itu tersebut take off pada pukul 14.36 Wib dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta obyek Pontianak

Nahas, baru empat menit mengudara, atau sekitar pukul 14.40 WIB, burung besi obyek Bandara Supadio itu hilang kontak. Detik-detik akhir pesawat itu terungkap di dalam rapat antara Kementerian Perhubungan, KNKT, BMKG, serta Airnav Indonesia, rapat dengan Komisi V DPR.

2 Menit Take Off, Pilot Berusaha Hindari Cuaca

Direktur Utama Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau Airnav Indonesia, M Pramintohadi Sukarno, membuktikan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 sempat berbelok ke kiri sejauh 075 derajat untuk hindari cuaca buruk.

" Pada 14.38, SJ-182 berharap arah 075 derajat kepada ATC (Air Traffic Controller) dengan alasan cuaca, dan diizinkan untuk diinstruksikan naik ke ketinggian ke 11.000 kaki," kata Pramintohadi di dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR di Jakarta, Rabu 3 Februari 2021.

" Saat diizinkan oleh ATC diinstruksikan naik ke ketinggian 11.000 kaki, ini sebenarnya dijawab pilot, 'clear'. Karena pada ketinggian serupa ada pesawat serupa yang dapat terbang termasuk ke Pontianak, yakni AirAsia, kala ketinggian 10.600 kaki, diinstruksikan oleh ATC naik ke 13.000 kaki dan masih direspons baik oleh Sriwijaya SJ 182," kata dia.

Selama sistem komunikasi dengan ATC sejak 14.36 WIB hingga 14.39 WIB tidak ada laporan suasana pesawat tidak normal.

Namun, pada pukul 14.39 WIB, lanjut Pramintohadi, SJ-182 terpantau di layar radar ATC berbelok ke kiri arah Barat laut, seharusnya ke arah kanan 075 derajat. Pada 14.40, ATC melaksanakan konfirmasi arah, namun tidak ada respons dan obyek hilang dari layar radar.

" ATC berupaya memanggil berulang kali hingga 11 kali dibantu oleh penerbangan lain, penerbangan Garuda untuk melaksanakan komunikasi dengan SJ-182 namun tidak ada respons. Demikian berjalan dari 14.36 hingga dengan 14.40," kata dia.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, mengatakan, pilot sempat merubah mode autopilot dari yang telah diprogram sebelumnya.

" Selanjutnya pesawat jadi berbelok ke kiri secara perlahan hingga pesawat pada akhirnya menukik ke bawah hingga membentur permukaan laut," katanya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan ada awan comulonimbus yang sempat terlihat di jalur pesawat Sriwijaya SJ-182 usai take off dari Bandara Soekarno-Hatta.

" Kondisi cuaca sebelum akan dan kala take off terdapat awan CB (cumolonimbus) di atas Jakarta dan jadi meluruh bersamaan dengan berkurangnya intensitas hujan dan meningkatnya jarak pandang," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.

" Sedangkan di dalam rute penerbangan masih terdapatnya awan CB yang membentang di atas Jawa bagian barat yang bergerak ke arah tenggara. Hal ini termasuk bisa dilihat dari analisa citra satelit Himawari yang menunjukan suhu puncak awan berkisar -43 derajat Celcius hingga dengan -48 derajat Celcius," jelasnya.

Dia menambahkan bahwa berdasarkan information radiosonde pertanggal 7 hingga 9 Januari 2021, terdapat potensi icing pada ketinggian 16.000 hingga 17.000 feet. Icing merupakan suatu sistem pembekuan dari embun maupun air yang tergoda suhu berakibat bisa mengganggu mobilitas pesawat.

" Berdasarkan information radiosonde tanggal 7-9 Januari 2021 potensi icing berada pada ketinggian 16.000 - 27.000 feet. Sedangkan ketinggian sekitar 11.000 feet tidak terdapat potensi icing," katanya.

Pesawat SJ-182 jatuh di dalam suasana mesin masih hidup. Soerjanto Tjahjono menjelaskan, berdasarkan temuan information automatic dependent surveillance-broadcast (ADP-B), yang merupakan sistem pemantauan penerbangan pesawat, pada pukul 14.40 WIB, pesawat Sriwijaya masih pancarkan tanda yang membuktikan berada di ketinggian 250 kaki.

" Terekamnya information hingga ketinggian dengan 250 kaki, mengidentifikasikan bahwa sistem pesawat masih berfungsi dan bisa mengirim data. Kondisi tersebut membuktikan bahwa mesin masih di dalam suasana hidup sebelum akan pesawat membentur air," kata Soerjanto.

Hal itu dikuatkan dengan temuan puing-puing pesawat tersebar di dalam lokasi lebar 80 meter dan panjang 110 meter pada kedalaman laut 16 hingga 23 meter. Termasuk di dalamnya ditemukan bagian pesawat seperti puing dari ruang kemudi, bagian roda pendarat utama, bagian sayap, bagian dari mesin, bagian dari kabin penumpang, serta bagian ekor.

" Bagian-bagian ini mewakili seluruh bagian pesawat dari depan hingga belakang. Luas sebaran dan ditemukannya bagian pesawat dari depan hingga belakang terus-menerus dengan bukti bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum akan membentur air," jelasnya.

" Jadi ada yang menyebutkan pesawat pecah di udara itu tidak benar, menjadi pesawat secara utuh hingga membentur air tidak ada pecah di udara," tambahnya.

" Temuan pada turbin pesawat membuktikan ketekunan bahwa mesin masih di dalam suasana hidup sebelum akan membentur air. Ini diindikasikan bahwa turbin-turbin rontok seluruh ini menandakan saat membentur air mesinnya masih berfungsi semua," jelasnya.

Soerjanto menambahkan, berdasarkan catatan perawatan pesawat pada 4 kali penerbangan di tanggal 9 Januari 2021 tidak ada laporan rusaknya pesawat.

" Dari buku catatan perawatan pesawat (aircraft maintenance log) tidak ditemukan terdapatnya rusaknya pesawat pada 4 penerbangan di tanggal 9 Januari 2021," terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Soerjanto membantah bahwa pesawat Sriwijaya Air SJ-182 mengalami full stall seperti yang ramai diperbincangkan oleh di fasilitas sosial, lebih-lebih YouTube.

" Ada dua fasilitas sosial yang menyebutkan ada kejanggalan pada pukul 7.40 UTC (14.40 WIB) pesawat Boeing 737 dengan kecepatan 115 knot secara teoretikal itu telah stall menjadi momen of truth pesawat ini telah stall. Hal ini tidak benar," katanya.

Stall merupakan masalah serius yang bisa berjalan pada pesawat terbang saat melayang di udara. Stall bisa memicu pesawat kehilangan daya angkat dan memicu pesawat jatuh dari ketinggian seperti sebuah batu. Stall terbagi di dalam beberapa kategori, yakni stall biasa, full stall, hingga stall yang bisa memicu pesawat mengalami spin alias berputar-putar.

Selain itu, pengakuan lain di fasilitas sosial menyebutkan bahwa berdasarkan ground speed 115 knots ini indikasi keras bahwa pesawat terkena full stall dan dapat sukar di-recover dengan ketinggian seperti itu.

Soerjanto menyebutkan information kotak hitam Flight Data Recorder (FDR) membuktikan sejak ketinggian berkurang, kecepatan pesawat bertambah, sedangkan kecepatan 115 knots di information flightradar.24 merupakan ground speed.

Temuan awal, dia menuturkan, membuktikan puing pesawat jenis Boeing 737-500 tersebar di lebar 80 meter, panjang 110 meter kedalaman 16-23 meter di mana beberapa bagian mewakili seluruh bagian di depan hingga belakang.

" Pesawat ini tidak mengalami ledakan sebelum akan membentur air. Pesawat secara utuh membentur air, tidak ada pecah di udara," ujar Soerjanto.

Selain itu, mesin di turbin masih di dalam suasana hidup, kondisinya rontok ada indikasi masih berputar saat membentur air. KNKT telah mengunduh information kotak hitam Flight Data Recorder pesawat Sriwijaya Air SJ 182 sejak ditemukan pada 13 Januari 2021.

Terdapat 370 parameter dan seluruh di dalam suasana baik. Sebelum pengunduhan data, kudu ada perlakuan (treatment) khusus yang kudu dilakukan.

KNKT membuktikan sistem pesawat Sriwijaya Air SJ 182 masih berfungsi dan bisa mengirim information sebelum akan jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Senin (9/1) pukul 14.40 WIB. KNKT telah menyatukan information radar ADS-B dari Perum Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Airnav Indonesia).

Dari information tersebut, tercatat pesawat mengudara pada pukul 14.36 WIB, terbang menuju arah barat laut dan pada pukul 14.40 WIB pesawat raih ketinggian 10.900 kaki, tercatat pesawat jadi turun dan information paling akhir pesawat pada ketinggian 250 kaki.  Pokermulia Poker online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot